Umar bin Abdul Aziz, jika di lihat dari
jalur ibu, nasab beliau bertemu dengan Sayidina Umar bin al-Khattab. Sedangkan
dari jalur ayah adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Harb bin
Muawiyah.
Sebelum dilantik
menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz pernah diangkat sebagai gubenur kota
Hijaz, salah satu keberhasilan beliau ketika menjabat sebagai gubenur adalah
beliau dinobatkan sebagai pemegang kendali dalam perenovasian masjid Nabawi,
dan berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan pada saat kaisar Romawi
datang ke sana, dia merasa takjub akan hasil kinerja beliau. Selain itu beliau
juga terkenal dengan keadilannya, beliau juga selalu mendengarkan setiap
pengaduan dari rakyatnya serta melarang penindasan terhadap orang lain.
Pada tahun 99 H
(717 M), Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai Khalifah setelah meninggalnya
Sulaiman bin Abdul Malik, atas wasiatnya sebelum beliau Wafat. Sebenarnya
Beliau tidak mau untuk dibai’at menjadi Kalifah. Sebelum pembaiatan, beliau
terlebih dahulu mengumumkan terhadap para pembesar muslimin, dengan memberi
kebebasan dalam pengangkatan Khalifah. Namun mereka semua tetap memilih beliau
sebagai Khalifah.
Pada saat menjabat
khalifah, beliau merubah kehidupannya secara drastis. Sebelumnya, beliau suka
berpakaian bagus, namun setelah menjadi Khalifah beliau menggunakan baju
seadanya. Bahkan menurut salah satu putranya, beliau hanya mempunyai satu
baju. Umar bin Abdul Aziz juga menjual
sebagian besar harta bendanya dan memasukkan hasil penjualannya ke baitulmal.
Beliau beranggapan bahwa ketikan seorang pemimpin ingin merubah keadaan bangsa,
maka harus dimulai dari anggota keluarganya lebih dulu.
Umar bin Aabdul
Aziz juga melarang semua orang untuk mencaci-maki Sayidina Ali beserta
keluarganya. Beliau juga mengeluarkan tahanan-tahanan yang menjadi korban dari
tuduhan-tuduhan yang tak terbukti. Beliau juga mengurusi langsung masalah
pembayaran zakat dan pemberiannya sehingga menyebabkan kemakmuran. Konon beliau
pernah kesulitan dalam mencari orang yang tepat untuk diberikan zakat dan
terpaksa mengembalikannya karena tidak menemukan seorangpun yang pantas
menerimanya.
Selain itu, beliau
tidak segan-segan memecat gubernur-gubernurnya bila didapati melakukan
penyelewengan, seperti yang terjadi terhadap Yazid bin Abi Muslim, gubernur
Afrika Utara, dan juga Salim bin Abdurrahman, gubernur Irak.
Umar bin Abdul
Aziz juga tidak suka menggunakan fasilitas negara selama dia tidak
membutuhkannya. Pernah diceritakan, beliau mematikan lampu saat putra beliau
berbicara masalah keluarga. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa lampu yang
dinyalakan tadi adalah milik negara.
Khalifah yang
sangat terkenal dengan keadilannya meninggal pada bulan Syaban 95 H. (723 M.).
Beliau meninggal karena diracun oleh budaknya sendiri, lantaran akan dihadiahi
uang yang sangat banyak.

0 Komentar untuk "Umar bin Abdul Aziz: Seharusnya Pemerintah Indonesia Belajar Padanya"